Ketika kudapati segala usaha ku belum mencapai tujuan, sejatuh-jatuhnya pun kau sanggup membuatku bangkit kembali.
“Seberapa seringkah?” Tanyaku yang seringkali melupakanmu.
“Tidak terhitung.” Bisikmu.
Kemudian, kau meninggalkan sebuah pesan untukku.
“Beranjaklah bersama alarm ikhlas seraya terus melangkah.”










