Carrot

Saturday, 17 November 2012

Ketika Redup Cahaya



Goresan luka telah bersarang dalam lubuk wanita itu. Tertutup rapat hingga tiada seorangpun menemukan  bercaknya. Luka yang dahulu sudah mengering oleh iringan waktu. Sering berganti sayatan bak mata pisau menerjang. Luka-luka seolah datang silih berganti, timbul tenggelam sesuai episode hidupnya. Ya, dia hidup dalam redup cahaya bila jiwa kembali menuai tetesan luka. Meski terang sering menjadi cahaya baginya tapi apa daya jika perih mulai menjalar. Peluk erat sang redup menjadi satu-satunya penenang kala tak berdaya menahan luka yang teramat sakit. Tapi kini berbeda, Ia yang biasanya tegar saat ini merasa begitu lemah dan terpuruk.

Satu jam, dua jam, tiga... Ah, tak terhitung berapa lamanya. Dia masih ada pada posisinya yang semula meringkuk memeluk lututnya seraya membenamkan wajah manisnya.

Kemudian terdengar suara detakan jam  yang semakin keras. Lebih keras. Dan hanya suara itu yang terdengar dikamar mungilnya.

“Tidakkah dia bosan hanya berdiam diri?”

“ Ah, kurasa tidak. Luka itu mungkin sudah menusuknya terlalu dalam.”

Wanita itu seakan merasakan hawa yang berubah menjadi “dingin” dari dinding-dinding kamarnya. Tangis yang sebelumnya mengalir dipipinya membuat seisinya tahu bahwa Ia sungguh-sungguh redup. Suasana kala itu menambah kesedihan baginya.

Wanita itu sedang dirindukan, andai dia tahu . . . .

“Sudah tiga hari seperti ini, tak melakukan apapun. Mungkin sedang mencari jalan keluar, tapi  . . . .”

“Apakah harus dengan cara seperti ini, tidak makan selama tiga hari, mengurung diri dikamar, tidak mandi bahkan tidak solat? Aku merasa tidak bermakna . . . ."                                                          
Ting . .  Ting . . Ting . . .   
Alarm yang dulu sengaja Ia pasang kembali berbunyi, kali ini suaranya kurus sekali, layaknya seseorang yang sedang menjeritkan kesedihannya. Pertanda ada ikatan batin yang terjalin dengan pemiliknya. Tepat jam 4 sore. Alarm itu memang disetel untuk mengingatkan agar Ia selalu membaca Alqur’an seperti yang kemarin-kemarin rutin Ia lakukan. 

“Ia tak bangkit. Aku tak suka hawa dingin ini. Akankah aku bisa kembali hangat? Sedang dia seperti kehilangan arah.”

Ia dirindukan . . . .  sadarkah?

Suara isak tangis lagi-lagi terdengar. Kali ini lebih meruncing dan lebih dalam. Walau tiada satupun tahu masalah apa yang sedang dialaminya, namun ada yang mengerti tentang tangis penyesalan itu. Wanita itu lantas mencakar-cakar dirinya sambil sesekali berucap “Alangkah bodohnya aku”. 

Ia pun mengambil pisau yang tergeletak disampingnya. Bangkit. lalu Berjalan dengan tergopoh-gopoh nan lemas.

Ia kemudian meletakkan pisau itu di atas meja kamarnya.

Entah apa yang membuatnya bangkit. Ataukah hanya perasaan sang wanita yang mampu memahaminya?

Astagfirullahaladzim . . .  
bisik sang wanita

Wanita itu bergegas keluar kamar dengan tidak menutup rapat pintunya. Sesaat kemudian gemericik air terdengar menyejukkan. Menit-menit berselang, akhirnya wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Digelarlah sajadah panjang miliknya. Alangkah hati-hati serta penuh ke khusyu’an dia melaksanakan kewajibannya kepada Sang Khaliq. Sujudnya lebih lama dari biasanya.  Kembali tetesan-tetesan air mata membasahi wajahnya. Dibalik untaian doanya ada yang nampak senang lantaran air mata itu ditunjukkan kepada Rabbnya. Kini hangat yang dirindukan pun dapat dirasakan  dan setiap detik yang dihasilkan kembali bermakna ^^ 

8 comments:

Zeal*Liyanfury said...

apa yang membuatnya bangkit?
penting untuk diceritakan lho... agar pembaca dapat turut meraih hikmahnya. :)

Hasana Annas said...

wah makasih mbak liyan fury :)
oke akan saya perbaiki :)

Mochammad Faizun said...

Gaya tulisannya sudah bagus. Hanya saja persoalan yang diangkat dalam cerita belum tampak. Semoga berkenan.

Catatan Harian Irfan said...

Redupnya cahaya membuat ia hati hati dalam menggelar sajadah, sungguh terharu :)

Hasana Annas said...

makaasih mas faizun, maklum baru belajar hehehe :)

Hasana Annas said...

Hahaha ini nih yang bikin ngakak :D
makasih mas irfan sudah berkenan mampir :)

Pandi said...

Cerita inspiratif, bagus, kondisi jiwa yang labil namun akhirnya berhasil kembali kepada kondisi yang lebih baik.

Hasana Annas said...

Terimakasih ^^
yupss itulah isi ceritanya ...